Wed. May 29th, 2024

Jakarta, CNBC Indonesia – Pertempuran baru pecah di Asia. Ini terjadi antara Azerbaijan dan Armenia di wilayah Nagorno-Karabakh.

Bentrokan sengit dilaporkan berlangsung Selasa (13/8/2022) pagi. Hampir 50 tentara Armenia meregang nyawa sementara Azerbaijan juga menderita korban meski tak merinci korban tewas.

Menurut AFP, pertempuran itu adalah yang terburuk sejak konflik terakhir terjadi di tahun 2020. Perlu diketahui kedua negara ini adalah bekas republik Uni Soviet itu.



“Musuh sedang mencoba untuk maju ke wilayah Armenia,” kata Kementerian Pertahanan Yerevan dalam sebuah pernyataan.

“Armenia diserang artileri, mortir dan drone ke arah kota Goris, Sotk, dan Jermuk,” tambah pernyataan itu.

Dalam pernyataannya ke parlemen, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menuntut reaksi keras negara-negara dunia. Ia mengatakan tindakan Azerbaijan agresif.

“Untuk saat ini, kami memiliki 49 (pasukan) tewas dan sayangnya itu bukan angka terakhir,” kata Pashinyan.

Sementara Azerbaijan menuduh Armenia melakukan tindakan subversif skala besar. Ini dilakukan di distrik Dashkesan, Kelbajar dan Lachin.

“Angkatan bersenjatanya menanggapi dengan langkah-langkah terbatas dan terarah, menetralkan posisi menembak Armenia” kata negeri itu.

Di sisi lain Iran dan Rusia mengimbau Armenia dan Azerbaijan untuk menahan diri. Keduanya diminta melakukan gencatan senjata.

“Iran menyerukan untuk menahan diri dan penyelesaian damai perselisihan antara kedua negara, dan menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya ketegangan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanani, dalam sebuah pernyataan.

Rusia pun mengatakan pihaknya telah merundingkan gencatan senjata antara bekas Soviet Armenia dan Azerbaijan. Ini akan dimulai pukul 9.00 waktu Moskow.

“Kami berharap kesepakatan yang dicapai sebagai hasil mediasi Rusia mengenai gencatan senjata mulai pukul 9.00 waktu Moskow pada 13 September tahun ini akan dilaksanakan secara penuh,” tegas kementerian luar negeri di Moskow dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa mereka sangat prihatin dengan pertempuran tersebut.

Merujuk sejarahnya, tetangga itu berperang dua kali, pada tahun 1990-an dan 2020, atas Nagorno-Karabakh. Ini adalah daerah kantong Azerbaijan yang berpenduduk Armenia.

Pertempuran enam minggu pada musim gugur 2020 merenggut lebih dari 6.500 nyawa dan berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Rusia.

Di bawah kesepakatan itu, Armenia menyerahkan sebagian besar wilayah yang telah dikuasainya sejak 1990-an dan Moskow mengerahkan sekitar 2.000 penjaga perdamaian Rusia untuk mengawasi gencatan senjata yang rapuh.

Iran berbatasan dengan Armenia dan Azerbaijan, termasuk daerah yang diperebutkan pada tahun 2020. Iran melaporkan dua korban dari tembakan nyasar melintasi perbatasan selama konflik.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Efek Sanksi, Nokia dan Ericsson Hentikan Bisnis di Rusia


(tfa/sef)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *