Thu. Jun 13th, 2024

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan masih terus mempersiapkan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) alias rupiah digital.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, penerbitan rupiah digital akan didahului dengan penerbitan white paper mengenai konsep rupiah digital.



“Kita segera akan menerbitkan konsultatif paper mengenai konsep CBDC wholesaler dan persiapkan dan persyaratan untuk bisa memenuhi 3i (interoperabilitas, interkonektivitas, dan integrasi) dari infrastruktur pembayaran di dalam negeri,” jelas Perry dalam konferensi pers, Kamis (20/10/2022).

Infrastruktur pembayaran di dalam negeri yang dimaksud Perry meliputi BI FAST, RTGS, pasar keuangan, dan GPN. “Juga berkaitan dengan cross border payment,” tuturnya.

White Paper pengembangan digital rupiah berisi laporan mengenai latar belakang dan rencana pengembangan CBDC.

Penerbitan White Paper ini merupakan sebuah bentuk komunikasi kepada publik terkait rencana pengembangan digital rupiah serta untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak.

Deputi Gubernur BI Doni P Joewono menjelaskan, dalam penerbitan rupiah digital terdapat 3 hal penting yang jadi prasyarat.

Pertama, desain rupiah digital tidak mengganggu stabilitas moneter dan sistem keuangan. Kedua, desain rupiah digital harus terintegrasi, interoperabilitas, interkonektivitas, dengan pasar keuangan dan infrastruktur sistem pembayaran.

Hal penting terakhir yang ketiga, yakni pentingnya teknologi yang digunakan, apakah DLT, blockchain, atau non DLT.

“Jadi saat ini kami sedang mempersiapkan white paper dan kita akan mempersiapkan 3i-nya terhadap infrastruktur sistem pembayaran sebagai langkah awal CBDC,” jelas Doni.

Adapun penerapan CBDC sebagai cross border atau lintas batas dengan negara lainnya, kata Doni sudah diawali dengan front end QRIS yang sudah tersambung dengan Thailand.

“Sekarang sedang pipeline dengan Malaysia dan Singapura. Tentunya nanti juga akan dijajaki dengan sistem fast payment dengan ASEAN 5,” jelas Doni.

“Beberapa negara yang memiliki fast payment yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ke depan dengan Filipina. ASEAN 5 akan jadi pioneer dalam cross border ini,” jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

BI Bakal Rilis Panduan Untuk Rupiah Digital Akhir 2022


(cha/cha)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *