Thu. Jun 13th, 2024

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah sudah menggelontorkan dana yang sangat besar mengentaskan masalah banjir di DKI Jakarta. Salah satunya adalah proyek Sodetan Kali Ciliwung ke Banjir Kanal Timur (BKT) yang menelan biaya mencapai Rp 1,2 triliun.

“Ini kan Rp1,2 triliun, paket ini (outlet) hampir Rp 500 an miliar, yang disana (inlet) Rp 700 (miliar) an, jadi mahal Insyaallah ada manfaatnya di pengendali banjir,” ungkap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono di Proyek Sodetan Kali Ciliwung – BKT, Selasa (24/1/2023).

Pekerjaan yang membuat proyek ini mahal adalah pembangunan terowongan dengan diameter 4 meter, dan dipasang betong di tiap sisi. Saat ini konstruksinya terus dikebut, dan diupayakan kelar pada April 2023 ini.


Basuki menjelaskan nantinya Sodetan ini akan menahan debit air di wilayah tengah, Karena posisinya berada di antara aliran air sungai Ciliwung dari wilayah TB Simatupang dan Manggarai.

“Sehingga sebelum masuk Manggarai masuk sini dulu pada saat hujan tinggi,” katanya.

Namun adanya proyek ini belum tentu memastikan Jakarta bakal bebas banjir pada 2023 ini. Basuki menegaskan Sodetan Ciliwung – BKT ini beserta beberapa program penanggulangan banjir di Jakarta ini bisa mengurangi potensi banjir secara signifikan.

Dimana dari Rencana Induk Sistem Pengendalian Banjir (flood control) Ibu Kota Jakarta dari Hulu ke Hilir, proyek ‘anti banjir’ di Jakarta antara lain, Bendungan Ciawi & Sukamahi, pembangunan pompa air di Ancol Sentiong, normalisasi 12 kali di Jakarta dan tanggul pantai dan muara sungai sepanjang 46,2 km.

Jokowi meninjau proyek sodetan Kali Ciliwung, Selasa (24/1/2023). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)Foto: Jokowi meninjau proyek sodetan Kali Ciliwung, Selasa (24/1/2023). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Jokowi meninjau proyek sodetan Kali Ciliwung, Selasa (24/1/2023). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

“itu disitu ada dari 414 (kelurahan) dengan Sukamahi menjadi 318, dengan ini menjadi 211 (kelurahan), nanti dengan Sentiong berkurang lagi, dengan normalisasi berkurang lagi,” sebutnya.

Proyek Sodetan Kali Ciliwung – BKT ini diungkapkan mandek selama 6 tahun, karena permasalahan pembebasan lahan. kemudian berjalan kembali pada akhir 2021 lalu.

“Sebenarnya ini proyek lanjutan yang dulu pernah berjalan di 2013 sampai dengan 2016, kemudian berhenti karena masalah pembebasan lahan,” timpal Manajer Proyek Sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT), Farida Maharani.

Progres pembangunan sodetan itu saat ini sudah mencapai 77%, yang ditargetkan rampung dan beroperasi pada April 2023 ini.

Sodetan Kali Ciliwung memiliki dua terowongan dengan diameter masing-masing 3,5 meter. Kehadiran sodetan tersebut akan mengurangi debit air hingga 33 meter kubik per detik pada saat status banjir siaga empat dan 63 meter kubik per detik pada saat status banjir siaga satu.

Mengutip Keterangan Kementerian PUPR, Pada tahun 2015, pembangunan sodetan Sungai Ciliwung telah tuntas sepanjang 550 meter. Kemudian dilanjutkan pada 2015-2017 dengan pembangunan permanen outlet dan dinding penahan tanah Kali Cipinang. Pada TA 2021, Kementerian PUPR melanjutkan pekerjaan sodetan Sungai Ciliwung ke Kanal Banjir Timur sepanjang 714 meter yang terdiri dari Zona A berupa bangunan permanen inlet open channel 165 meter dan normalisasi Sungai Ciliwung, Zona B berupa terowongan ganda sodetan dari inlet ke arriving shaft 549 meter, dan dan Zona D normalisasi Kali Cipinang dan KBT.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Banjir Landa Jaksel, dari Kemang Sampai Cilandak


(emy/wur)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *