Thu. Jun 13th, 2024

Jakarta, CNBC Indonesia – Sengketa di Laut China Selatan (LCS) makin meruncing. Kali ini, China mengusir pesawat Penjaga Pantai Filipina dari wilayah perairan yang disengketakan banyak negara itu.

Dalam pengamatan AFP, insiden ini terjadi saat pesawat Manila membawa rombongan wartawan pada Kamis, (9/3/2023). Saat memasuki wilayah yang juga diklaim China, terdengar suara radio yang meminta pesawat itu pergi

“Anda telah memasuki (air di sekitar) karang China dan merupakan ancaman keamanan. Untuk menghindari kesalahpahaman, segera pergi,” kata operator radio China, dalam salah satu dari tujuh pesan yang dikeluarkan dalam bahasa China dan Inggris saat pesawat penjaga pantai terbang di atas Filipina.


Pilot Filipina menolak untuk melakukan hal ini. Mereka menjawab bahwa pesawat itu terbang di dalam wilayah negaranya.

Selama penerbangan empat jam itu, Penjaga Pantai Filipina mengidentifikasi hampir 20 kapal China, termasuk apa yang mereka gambarkan sebagai kapal ‘milisi maritim’, di perairan sekitar sembilan pulau dan karang yang diduduki Filipina.

Tujuh belas kapal yang dilaporkan oleh Penjaga Pantai Filipina sebagai milisi maritim China juga terlihat di dekat Beting atau tumpukan pasir Sabina. Beting itu notabenenya juga diklaim oleh Manila.

“Lima belas kapal China terlihat di sekitar Thitu, pulau terbesar yang diduduki Filipina, yang terletak sekitar 430 kilometer dari pulau Palawan utama Filipina dan lebih dari 900 kilometer dari pulau Hainan daratan besar terdekat China,” tambah para kru itu.

Insiden ini sendiri terjadi setelah sebelumnya kapal Penjaga Pantai China menggunakan sinar laser tingkat militer untuk mengusir kapal patroli Filipina. Itu adalah insiden maritim besar terbaru antara Filipina dan China.

Kejadian ini juga memicu pertikaian diplomatik baru dan mendorong Presiden Filipina Ferdinand Marcos untuk mengambil langkah yang tidak biasa dengan menghadapi duta besar China untuk Manila.

LCS merupakan jalur penting untuk sebagian besar pengiriman komersial dunia dengan beberapa negara terletak di bibir lautan itu seperti Brunei, Kamboja, China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Lautan itu diyakini sebagai lautan yang kaya hasil alam, terutama migas dan ikan.

China bersikukuh mengklaim sekitar 90% dari lautan itu dalam apa yang disebut sebagai “sembilan garis putus-putus” dimana mencakup area seluas sekitar 3,5 juta kilometer persegi (1,4 juta mil persegi). Klaim tersebut telah menimbulkan ketegangan politik dunia akan perang terbuka yang mungkin saja terjadi karena konflik teritorial ini.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Tetangga Dekat RI Ini ‘Ngamuk’ ke China, Ada Apa?


(luc/luc)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *